Twitter Slider
forex trading logo

Terletak di pusat kota dan menempati bangunan bersejarah, SMAN 1 Banda Aceh telah berdiri sejak 1946 dan merupakan sekolah tertua dan target favorit bagi lulusan sekolah menengah baik yang ada di banda aceh maupun kabupaten sekitar untuk menggapai cita dan harapan di masa yang akan datang.


Artikel

Artikel (5)

Berisi artikel opini tentang pendidikan dan sekolah.

pak khairurazi

Oleh,

Khairurrazi, S.Pd., M.Pd.

(Kepala SMAN 1 Banda Aceh)

 

Kurikulum 2013 merupakan penyempurnaan dari Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Hal itu dilakukan semata-mata untuk perbaikan sistem pendidikan. Perubahan tersebut dilakukan karena KTSPdianggap belum dapat mencapai harapan yang diinginkan sehingga perlu adanyarevitalisasi kurikulum. Usaha tersebut mesti dilakukan demi menciptakan generasi masa depan berkarakter, yang memahami jati diri bangsanya dan menciptakan anak yang unggul, mampu bersaing di dunia internasional.  Hal lain yang ikut melatarbelakngi lahirnya kurikulum 2013 adalah standar proses pembelajaran yang belum menggambarkan urutan pembelajaran yang rinci sehingga membuka peluang penafsiran yang beraneka ragam dan berujung pada pembelajaran yang berpusat pada guru. Ditambah pula belum peka dan tanggapnya kurikulum yang ada terhadap perubahan sosial yang terjadi pada tingkat lokal, nasional, maupuninternasional. Beberapa kompetensi yang dibutuhkan sesuai dengan perkembangan dunia pendidikan (misalnya pendidikan karakter, metodologi pembelajaran aktif, keseimbangansoft skillsdanhard skills,kewirausahaan) belum terakomodasi di dalam kurikulum.

Hal itu menyebabkan hasil pembelajaran berbagai mata pelajaran selama ini pada umumnya didapati masih kurang memuaskan. Pembelajaran yang hanya sekadar berorientasi kepada ranah kognitif semata, kurang mengembangkan aspek imtak, intelektual, emosional, sosial, dan budaya. Kebanyakan kegiatan pembelajaran masih berpusat pada guru. Biasanya guru lebih banyak menghabiskan waktu untuk berceramah. Sebaliknya, kurang memberdayakan siswa agar aktif terlibat dalam proses pembelajaran. Guru lebih mendominasi atau menjadi pusat dalam proses pembelajaran. Selain itu, proses pembelajaran yang selama ini terjadi pada umumnya lebih bersifat individual dan kompetitif. Akhirnya, jawaban siswa yang relatif kurang berkualitas cenderung dianggap sebagai kemampuan yang maksimal dalam pembelajaran tersebut.

Pembelajaran secara individual dan kompetitif bukanlah pembelajaran yang tepat pada zaman sekarang. Hal itu disebabkan oleh beberapa hal, di antaranya: (1) pengetahuan sekadar ditransfer dari guru kepada siswa, (2) siswa pada umumnya bersifat pasif, (3) guru menjadi satu-satunya sumber yang utama, (4) proses dan hasil belajar ditekankan pada kemajuan individu dan bersifat kompetitif, (5) di dalam kelas guru merupakan satu-satunya orang yang mengajar, (6) suasana kelas cenderung sepi, pasif, dan terisolasi, dan (7) guru menjadi orang yang paling bertanggung jawab terhadap proses pembelajaran. Berdasarkan permasalahan di atas, jelaslah bahwa pembelajaran individual dan kompetitif  lebih berpusat pada guru kurang tepat diterapkan dewasa ini, karena tidak memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengemukakan pendapat dan berdiskusi. Akibatnya pembelajaran tidak mampu mengembangkan dan meningkatkan kemampuan siswa dalam mengapresiasi serta mengaitkan materi dengan imtak, nilai-nilai, dan  berbagai kebutuhan hidup siswa sehari-hari.

Pola pembelajaran yang bersifat individual dan kompetitif serta lepas kaitannya dari imtak, nilai-nilai, dan berbagai kebutuhan hidup siswa sehari-hari, sudah saatnya ditinggalkan. Hal ini karena dalam pembelajaran pola ini menyebabkan siswa yang pandai semakin maju sementara siswa lemah semakin tertinggal. Tidak jarang pula siswa yang pandai cenderung menurun hasil belajarnya. Sementara itu, pembelajaran kompetitif membut siswa berusaha menjadi yang terbaik dengan harapan agar siswa yang lain tertinggal. Selain itu, pembelajaran terasa kurang bermakna karena tidak dikaitkan dengan imtak, nilai-nilai, dan berbagai kebutuhan hidup siswa sehari-hari yang menjadi sandaran pendidikan nasional.

Terkait dengan hal itu, Slavin  (1995:3) juga menengarai bahwa belajar individual dan kompetitif memiliki beberapa kelemahan, yaitu; kompetisi siswa kadang-kadang tidak sehat. Sebagai contoh jika seorang siswa menjawab pertanyaan guru, siswa yang lain berharap agar jawaban tersebut salah; siswa yang berkemampuan rendah akan kurang termotivasi; siswa berkemampuan sedang akan sulit untuk sukses dan semakin tertinggal; dan dapat membuat frustasi siswa lainnya.

Cooperative Learning Identik dengan Belajar Berkelompok

Akan halnya kurikulum 2013, ia berbasis kompetensi; berkomunikasi, berpikir jernih dan kritis, kemampuan mempertimbangkan segi moral suatu permasalahan, kemampuan menjadi warga negara yang efektif, kemampuan mencoba untuk mengerti dan toleran terhadap pandangan yang berbeda, kemampuan hidup dalam masyarakat yang mengglobal,memiliki minat luas mengenai hidup, memiliki kesiapan untuk bekerja, dan memiliki kecerdasan sesuai dengan bakat/minatnya.

Untuk itu, salah satu solusi memperbaiki kelemahan pembelajaran untuk meyahuti tantangan kurikulum 2013, adalah dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif. Belajar kooperatif bukanlah suatu hal yang baru dalam dunia pendidikan. Sebagai guru dan mungkin sebagai siswa, kita pernah menggunakannya atau mengalaminya. Sebagai contoh saat bekerja dalam laboratorium. Dalam belajar kooperatif, siswa dibentuk dalam kelompok-kelompok yang terdiri atas 4 atau 5 orang untuk bekerja sama dalam menguasai materi yang diberikan guru. Kelompok belajar kooperatif adalah kelompok yang dibentuk dengan tujuan untuk memaksimalkan belajar antara siswa. Setiap anggota kelompok mempunyai tanggung jawab mereka terhadap kontribusi dalam usaha mencapai tujuan dan bantuan untuk anggota yang membutuhkan.

Pembelajaran dengan model kooperatif memiliki beberapa kelebihan, di antaranya: 1) ilmu dapat diperoleh secara bersama-sama dalam kelompok, 2) setiap anggota kelompok belajar secara aktif, 3) guru bisa lebih aktif dengan peran sebagai model, sumber, konsultan, dan fasilitator 4) proses dan hasil pembelajaran ditekankan pada kerja sama dan kebersamaan, 5) setiap siswa berperan sebagai pengajar, 6) situasi pembelajaran menyenangkan, 7) setiap siswa bertanggung jawab terhadap kemajuan belajarnya sendiri dan kemajuan kelompoknya.

Keunggulan lainnya dari Pembelajaran model kooperatif adalah karena. Siswa akan memiliki tanggung jawab secara individual terhadap kemajuan belajarnya dan kemajuan kelompok.  Anggota kelompoknya akan bersifat hoterogen, yakni terdiri atas berbagai ras, etnis, agama, kemampuan, dan jenis kelamin. Ketua kelompoknya dapat berganti sesuai dengan kesepakatan kelompok, anggota kelompok saling memberi tanggapan. Pembelajaran dalam kelompok lebih berorientasi kepada proses. Guru berperan aktif mengarahkan siswa untuk menciptakan kelancaran proses untuk belajar keterampilan, Selain itu yang teramat penting adalah siswa bekerja sama dalam kelompok, saling membantu, dan mengalami secara langsung proses kerja sama dalam belajar.

                                                                                                                    

Banyak keuntungan kelebihan yang dapat diperoleh dari belajar kooperatif, di antaranya (1) dapat meningkatkan kemajuan belajar siswa, dan hasil belajar yang dicapai lebih tinggi dibandingkan dengan belajar individual dan kompetitif, (2) dapat meningkatkan daya pikir, memperoleh kedalaman tingkat pengetahuan, dan menciptakan kemampuan berpikir kritis, (3) mengembangkan sikap positif terhadap pelajaran, sekolah, dan pembelajaran secara umum, (4) lebih mementingkan tugas dan dapat menghilangkan sikap suka mengganggu teman, (5) dapat meningkatkan motivasi belajar, (6) mendorong siswa untuk memperhatikan orang lain, (7) dapat meningkatkan kemampuan bekerja dan menyelesaikan masalah secara bersama, (8) dapat mengembangkan rasa sosial, (9) menumbuhkan rasa penghargaan terhadap gaya belajar teman, (10) dapat menumbuhkan percaya diri dan rendah hati, dan (11) memberikan kesehatan jiwa, penyesuaian diri dan ketentraman belajar, serta (12) dapat meningkatkan keterampilan sosial dan hubungan antarpribadi( Eanes, 1997:135).

Model-model pembelajaran yang termasuk dalam kelompok belajar kooperatif  di antaranya adalah penyelidikan kelompok, Jigsaw, Student Teams Achievement Divisions(STAD),Skrip kooperatif, pembelajaran berdasarkan masalah (problem based introduction), mencari pasangan (make a macth), debat, grup investigasi, kooperatif terpadu membaca dan menulis, dan lain-lain. Model-model belajar jenis ini memiliki beberapa kelebihan, di antaranya  berfokus pada penyelidikan terhadap suatu topik atau konsep, menyediakan kesempatan kepada siswa untuk membentuk atau memberikan pertanyaan-pertanyaan yang bermakna mengenai topik yang sedang dipelajari, efektif membantu siswa untuk bekerja sama dalam kelompok dengan latar belakang berbeda baik dari segi ras, etnis, kemampuan, jenis kelamin, maupun status sosial, dan menyediakan suatu konteks sehingga siswa dapat belajar mengenai dirinya sendiri, orang lain, lingkungan, maupun kebudayaannya (Eggen & Kauchak, 1998:304).

Belajar kooperatif diyakini dapat meningkatkan kemampuan siswa mengembangkan dan meningkatkan kemampuannya dalam mengapresiasi serta mengaitkan materi pelajaran dengan imtak, dan nilai-nilai sebagai upaya menyahuti kurikulum 2013 yang berbasis kompentensi dan kontekstual. Pembelajaran yang seperti ini dirasakan menarik, bervariasi, dan menyenangkan, serta bermakna bagi anak didik

DAFTAR BACAAN

Eggen, P.D & Kauchak, P.P. 1996. Strategis for Teachers: Teaching Content and Thinking Skils. Boston: Allyn & Bacon.

Ibrahim, M., Rachmadiarti, F. , M., dan Ismono. 2000. Pembelajaran Kooperatif. Surabaya: Unesa University Press.

Ibrahim, M & Nur, M. 2000. Pengajaran Berdasarkn Pemecahan Masalah. Surabaya: Unesa University Press.

Ibrahim, M., Rachmadiarti, F. , M., dan Ismono. 2000. Pembelajaran Kooperatif. Surabaya: Unesa University Press.

Johnson, D.W & Johnson, R.T. 1994. Learning Together and Alone: Cooperative, Competitive, and Individualistic Learning, four adition. Massachusets: Allyn & Bacon.

Johnson, D.W & Johnson, R.T. 1994. Learning Together and Alone: Cooperative, Competitive, and Individualistic Learning, four adition. Massachusets: Allyn & Bacon.

Kurikulum 2006. BSNP Jakarta,

Sakvin, R.E. 1995. Cooperative Learning, second adition. Massachusts, Boston: Allyn & Bacon.

Sakvin, R.E. 1995. Cooperative Learning, second adition. Massachusts, Boston: Allyn & Bacon.

 

Monday, 30 September 2013 16:39

Publikasi Ilmiah Guru 2013

Written by

Nama: Rukiah, S.Pd. Judul: Meningkatkan Keaktifan Siswa Kelas X – 5 Materi Atletik Lompat Jauh Melalui Metode Demontrasi Pelajaran Penjasorkes pada SMA Negeri 1 Banda Aceh Dimuat pada: Jurnal Pelita Pendidikan, Vol. 1, Nomor 2, Edisi Mei 2013

Nama: Safiruddin, M.Pd. Judul: Peningkatan Hasil Belajar Trigonometri Melalui Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Team Assisted Individualization (TAI) Berbantukan Lembar Kerja Siswa (LKS) Pada Siswa Kelas XI SMA N 1 Banda Aceh Dimuat pada: Jurnal Pelita Pendidikan, Vol. 1, Nomor 1, Edisi Maret 2013

 

Wednesday, 17 July 2013 15:46

GURU DAN SERTIFIKASI

Written by

Pemenuhan Jam Mengajar Guru Untuk Sertifikasi

Reformasi pendidikan mulai dari birokrasi pendidikan, kurikulum, profesi keguruan dan sebagainya. Salah satu yang menjadi bagian dari reformasi profesi guru, adalah kewajiban mengajar 24 jam mengajar. Dari yang diamati dilapangan banyak guru, kepala sekolah bahkan pihak dinas pendidikan yang kurang memahami aturan main dalam pemenuhan beban mengajar. Padahal pemenuhan 24 jam mengajar erat kaitannya dengan tunjangan profesi dan penataan guru nasional.
Untuk itu saya susun masalah tersebut dengan bentuk tanya jawab ( FAQ= frequensly asked Question / pertanyaan yang sering di ajukan ), juga kami sertakan soal pertanyaan berupa studi kasus, semoga dapat membantu.

1. -->
Tanya = Berapakah sebenarnya beban mengajar guru sesuai aturan nasional, dan sebutkan dasar hukumnya?
Jawab = Sesuai aturan yang berlaku beban mengajar guru adalah dua puluh empat (24) jam pelajaran, dasar hukumnya UU Guru Dan Dosen dan PP no 74 tahun 2008 tentang pemenuhan beban mengajar guru.

2. -->

Tanya = Tugas guru selain mengajar adakah tugas lain yang bisa dikonversi menjadi jam?

Jawab = Menurut PP No. 74 Tahun 2008 tugas tambahan yang bisa dikonversi menjadi jam pelajaran adalah :
1. Tugas sebagai Kepala Sekolah ekuivalen dengan 18 jam, sehingga minimal wajib mengajar 6 jam
2. Tugas sebagai Wakil Kepala Sekolah ekuivalen dengan 12 jam, sehingga minimal wajib mengajar 12 jam
3. Tugas sebagai Kepala Perpustakaan ekuivalen dengan 12 jam, sehingga minimal wajib mengajar 12 jam
4. Tugas sebagai Kepala Laboratorium ekuivalen dengan 12 jam, sehingga minimal wajib mengajar 12 jam
5. Tugas sebagai Ketua Jurusan Program Keahlian ekuivalen dengan 12 jam, sehingga minimal wajib mengajar 12 jam
6. Tugas sebagai Kepala Bengkel ekuivalen dengan 12 jam, sehingga minimal wajib mengajar 12 jam
7. Tugas sebagai Pembimbing Praktik Kerja Industri ekuivalen dengan 12 jam, sehingga minimal wajib mengajar 12 jam
8. Tugas sebagai Kepala Unit Produksi ekuivalen dengan 12 jam, sehingga minimal wajib mengajar 12 jam

3. -->
Tanya = Apakah Tugas sebagai wali kelas dan pembina OSIS maupun pembina ekstrakurikuler bisa diakui sebagai jam mengajar?
Jawab = Tidak di akui, sesuai PP no. 74 Tahun 2008 tugas tambahan yang bisa dikonversi sebagai jam mengajar hanyalah seperti yang tertera di atas.

4. -->
Tanya = Bagaimana dengan team teaching? Mengapa tahun lalu (2011) banyak tugas tambahan yang diperkenankan?
Jawab = Team teaching sudah tidak dibolehkan lagi. Ketika PP No 74 tahun 2008 tentang pemenuhan beban kerja guru dan pengawas di sahkan, timbul gejolak dimana-mana. Yaitu banyak guru kekurangan jam mengajar. Hal ini wajar sebab, sebelumnya beban mengajar guru minimum adalah 18 jam. Jika 24 Jam mengajar tidak terpenuhi, kemungkinan besar guru yang telah sertifikasi tidak akan menerima TPP sesuai aturan. Dan guru yang akan mengikuti proses sertifikasi juga harus memenuhi 24 jam mengajar. Jika tidak yang bersangkutan tidak bisa ikut sertifikasi. Akhirnya pemerintah melalui Permendiknas no.39 tahun 2009 memberikan alternatif untuk mengatasi hal tersebut. Permendiknas tersebut mengatur bAhwa pemenuhan beban mengajar guru, bisa melalui antara lain, team teaching, kegiatan ekstrakurikuler, pengurus PGRI, bahkan pembinaan mental siswa (misalnya guru TPA) pun diakui sebagai jam. Namun Permendiknas no. 39 tahun 2009 hanya berlaku 2 tahun sejak disahkan, dan diperpanjang setengah tahun melalui Permendiknas no. 30 tahun 2011 yang memperpanjang PP no. 39/2009 hingga 31 Desember 2011. Sehingga otomatis tanggal 1 januari 2012 kedua Permendiknas tersebut TIDAK BERLAKU LAGI. Dan peraturan pemenuhan beban mengajar guru dan pengawas kembali ke PP no 74/2008. Sehingga tugas-tugas tambahan seperti team teaching dan ekstrakurikuler sebagaimana termaktub dalam Permendiknas 39/2009 tidak berlaku.

5. -->
Tanya = Bagaimana alternatif menambah jam pelajaran seorang guru yang kekurangan jam mengajar?
Jawab = Sesuai aturan PP no.74/2008 seorang guru yang kurang dari 24 jam mengajar dapat memenuhi dengan alternatif sebagai berikut :
a. Diberi tugas tambahan sesuai dengan pertanyaan nomer 2 diatas.
b. Mengajar di satuan pendidikan/disekolah lain dengan mata pelajaran yang sama dengan sertifikat pendidik.
c. Menambah rombongan belajar disekolah sesuai standar sarana Prasarana KTSP. Misalnya untuk tingkat SMA bisa dimaksimalkan rombongan belajar menjadi 27 rombel dengan masing-masing rombel adalah minimal 20 orang untuk SMA dan 15 orang untuk MA ( madrasah aliyah )
d. Menambah jam pelajaran sesuai yang diperkenankan pada standar kurikulum.

6. -->
Tanya = Sekolah kami adalah sebuah SMA. sekolah kami mempunyai kelas X sebanyak 3 rombongan belajar yakni kelas X1, X2, X3 dengan masing-masing jumlah siswa adalah 30 siswa sehingga jumlah keseluruhan siswa kelas X adalah 90 orang. Untuk menambah jam pelajaran, sekolah kami memecahnya menjadi 6 rombel yakni X1, X2, X3, X4, X5, X6 dengan masing-masing kelas berisi 15 siswa. Apakah boleh pemecahan rombel seperti ini.
Jawab = TIDAK BOLEH
Pemecahan rombel sekolah anda diperkenankan apabila satu kelas berisi minimal 20 siswa untuk SMA dan 15 Siswa untuk MA. Jika sekolah anda memaksakan maka hal itu bertentangan dengan aturan standar nasional pendidikan yakni sesuai aturan standar sarana dan prasarana. Hal tersebut bisa mengakibatkan sekolah anda bisa dikenai sangsi, bahkan bahkan bisa ditunda pembayaran TPP nya.

7. -->
Tanya = Untuk memperbanyak jam mengajar dengan harapan semua guru mendapatkan minimal 24 jam mengajar, sekolah kami menambah jam mengajar tertentu seperti jam pelajaran eksak dalam struktur kurikulum. Akibatnya jumlah jam pelajaran seharinya menjadi 10 Jam dalam satu minggu, sehingga anak-anak pulang sekolah hingga jam 5 sore, apakah ini diperkenankan.
Jawab = Tidak diperkenankan, sebab hal ini bertentangan dengan standar kurikulum nasional yang mengatur jumlah beban mengajar minimal dan maksimal jam pelajaran satu minggunya. sebagai contoh tingkat SMA, standar kurikulum menghendaki  maksimal jam pelajaran satu minggunya 42 jam mengajar. Jika hal ini tetap dipaksakan bisa dikenai sangsi seperti pada pembahasan pertanyaan sebelumnya. Anda bisa melihat aturan standar kurikulum dan sarana prasarana di wakasek kurikulum sekolah anda. Insya Allah mempunyainya.

8. -->
Tanya = Saya seorang guru PNS mengajar sejarah disebuah SMP, karena kekurangan jam mengajar saya menambah mengajar disebuah SD. Bolehkah hal ini?
Jawab = Tidak boleh, karena guru SD adalah guru kelas, sedangkan anda guru MAPEL. Guru MAPEL baik dari SMP maupun SMA yang diperkenankan mengajar di SD adalah guru Penjaskes dan Agama Islam (PAI).

9. -->
Tanya = Saya guru Matematika Biologi SMA, untuk menambah jam bisakah saya mengajar di SMP.
Jawab = Tidak boleh, sebab sekarang ini tidak ada pelajaran biologi di SMP namun IPA. Jadi untuk mengajar di SMP anda harus mempunyai sertifikat pendidik mata pelajaran IPA. Demikian pula sebaliknya, seseorang yang bersertifikat pendidik IPA di SMP tidak boleh menambah jam di SMA. Meskipun ijazah S-1 dia Biologi misalnya.

10. -->
Tanya = Saya guru kimia disebuah SMA Negeri, disekolah asal saya mendapat 12 jam mengajar, untuk menggenapi menjadi 24 jam, saya menjadi wakasek kurikulum disebuah SMA swasta. Bolehkah hal tersebut.
Jawab = Tidak boleh, dalam Permen 39/2008 tugas tambahan hanya diakui jika dilaksanakan di satuan administrasi pangkal (Satminkal).

11. -->
Tanya = Kenapa guru PAI disekolah saya diperkenankan ada ekstrakurikuler.
Jawab = Untuk guru PAI sertifikasinya di bawah Kemenag, sedikit ada perbedaan aturan, dimana guru PAI dimungkinkan menambah jam pelajaran dengan melakukan bimbingan mental/kerohanian maksimal 6 (enam jam pelajaran tiap minggunya)

Sumber:
http://oke-pos.blogspot.com

Saturday, 20 July 2013 18:00

Pemenuhan Jam Mengajar Guru Untuk Sertifikasi

Written by

Reformasi pendidikan mulai dari birokrasi pendidikan, kurikulum, profesi keguruan dan sebagainya. Salah satu yang menjadi bagian dari reformasi profesi guru, adalah kewajiban mengajar 24 jam mengajar. Dari yang diamati dilapangan banyak guru, kepala sekolah bahkan pihak Dinas pendidikan yang kurang memahami aturan main dalam pemenuhan beban mengajar. Padahal pemenuhan 24 jam mengajar erat kaitannya dengan tunjangan profesi dan penataan guru nasional.

Untuk itu saya susun masalah tersebut dengan bentuk tanya jawab ( FAQ= frequensly asked Question / pertanyaan yang sering di ajukan ), juga kami sertakan soal pertanyaan berupa studi kasus, semoga dapat membantu.

 

1.Tanya = Berapakah sebenarnya beban mengajar guru sesuai aturan nasional, dan sebutkan dasar hukumnya?
  Jawab = Sesuai aturan yang berlaku beban mengajar guru adalah dua puluh empat (24) jam pelajaran, dasar hukumnya UU Guru Dan Dosen dan
               PP no 74 tahun 2008 tentang pemenuhan beban mengajar guru.


2. Tanya = Tugas guru selain mengajar adakah tugas lain yang bisa dikonversi menjadi jam?
    Jawab = Menurut PP No. 74 Tahun 2008 tugas tambahan yang bisa dikonversi menjadi jam pelajaran adalah :
    1. Tugas sebagai Kepala Sekolah ekuivalen dengan 18 jam, sehingga minimal wajib mengajar 6 jam
    2. Tugas sebagai Wakil Kepala Sekolah ekuivalen dengan 12 jam, sehingga minimal wajib mengajar 12 jam
    3. Tugas sebagai Kepala Perpustakaan ekuivalen dengan 12 jam, sehingga minimal wajib mengajar 12 jam
    4. Tugas sebagai Kepala Laboratorium ekuivalen dengan 12 jam, sehingga minimal wajib mengajar 12 jam
    5. Tugas sebagai Ketua Jurusan Program Keahlian ekuivalen dengan 12 jam, sehingga minimal wajib mengajar 12 jam
    6. Tugas sebagai Kepala Bengkel ekuivalen dengan 12 jam, sehingga minimal wajib mengajar 12 jam
    7. Tugas sebagai Pembimbing Praktik Kerja Industri ekuivalen dengan 12 jam, sehingga minimal wajib mengajar 12 jam
    8. Tugas sebagai Kepala Unit Produksi ekuivalen dengan 12 jam, sehingga minimal wajib mengajar 12 jam

3. Tanya = Apakah Tugas sebagai wali kelas dan pembina OSIS maupun pembina ekstrakurikuler bisa diakui sebagai jam mengajar?
    Jawab = Tidak di akui, sesuai PP no. 74 Tahun 2008 tugas tambahan yang bisa dikonversi sebagai jam mengajar hanyalah seperti yang tertera di atas.

4.Tanya = Bagaimana dengan team teaching? Mengapa tahun lalu (2011) banyak tugas tambahan yang diperkenankan?
   Jawab = Team teaching sudah tidak dibolehkan lagi. Ketika PP No 74 tahun 2008 tentang pemenuhan beban kerja guru dan pengawas di sahkan, timbul gejolak dimana-mana. Yaitu banyak guru kekurangan jam mengajar. Hal ini wajar sebab, sebelumnya beban mengajar guru minimum adalah 18 jam. Jika 24 Jam mengajar tidak terpenuhi, kemungkinan besar guru yang telah sertifikasi tidak akan menerima TPP sesuai aturan. Dan guru yang akan mengikuti proses sertifikasi juga harus memenuhi 24 jam mengajar. Jika tidak yang bersangkutan tidak bisa ikut sertifikasi. Akhirnya pemerintah melalui Permendiknas no.39 tahun 2009 memberikan alternatif untuk mengatasi hal tersebut. Permendiknas tersebut mengatur bAhwa pemenuhan beban mengajar guru, bisa melalui antara lain, team teaching, kegiatan ekstrakurikuler, pengurus PGRI, bahkan pembinaan mental siswa (misalnya guru TPA) pun diakui sebagai jam. Namun Permendiknas no. 39 tahun 2009 hanya berlaku 2 tahun sejak disahkan, dan diperpanjang setengah tahun melalui Permendiknas no. 30 tahun 2011 yang memperpanjang PP no. 39/2009 hingga 31 Desember 2011. Sehingga otomatis tanggal 1 januari 2012 kedua Permendiknas tersebut TIDAK BERLAKU LAGI. Dan peraturan pemenuhan beban mengajar guru dan pengawas kembali ke PP no 74/2008. Sehingga tugas-tugas tambahan seperti team teaching dan ekstrakurikuler sebagaimana termaktub dalam Permendiknas 39/2009 tidak berlaku.

5.Tanya = Bagaimana alternatif menambah jam pelajaran seorang guru yang kekurangan jam mengajar?
   Jawab = Sesuai aturan PP no.74/2008 seorang guru yang kurang dari 24 jam mengajar dapat memenuhi dengan alternatif sebagai berikut :
   a. Diberi tugas tambahan sesuai dengan pertanyaan nomer 2 diatas.
   b. Mengajar di satuan pendidikan/disekolah lain dengan mata pelajaran yang sama dengan sertifikat pendidik.
   c. Menambah rombongan belajar disekolah sesuai standar sarana Prasarana KTSP. Misalnya untuk tingkat SMA bisa dimaksimalkan rombongan belajar

       menjadi 27 rombel dengan masing-masing rombel adalah minimal 20 orang untuk SMA dan 15 orang untuk MA ( madrasah aliyah )
   d. Menambah jam pelajaran sesuai yang diperkenankan pada standar kurikulum.

6. Tanya = Sekolah kami adalah sebuah SMA. sekolah kami mempunyai kelas X sebanyak 3 rombongan belajar yakni kelas X1, X2, X3 dengan masing-masing
                jumlah siswa adalah 30 siswa sehingga jumlah keseluruhan siswa kelas X adalah 90 orang. Untuk menambah jam pelajaran, sekolah kami
                memecahnya menjadi 6 rombel yakni X1, X2, X3, X4, X5, X6 dengan masing-masing kelas berisi 15 siswa. Apakah boleh pemecahan rombel

                seperti ini.
    Jawab = TIDAK BOLEH
    Pemecahan rombel sekolah anda diperkenankan apabila satu kelas berisi minimal 20 siswa untuk SMA dan 15 Siswa untuk MA. Jika sekolah anda
    memaksakan maka hal itu bertentangan dengan aturan standar nasional pendidikan yakni sesuai aturan standar sarana dan prasarana.
    Hal tersebut bisa mengakibatkan sekolah anda bisa dikenai sangsi, bahkan bahkan bisa ditunda pembayaran TPP nya.

7.Tanya = Untuk memperbanyak jam mengajar dengan harapan semua guru mendapatkan minimal 24 jam mengajar, sekolah kami menambah jam

               mengajar tertentu seperti jam pelajaran eksak dalam struktur kurikulum. Akibatnya jumlah jam pelajaran seharinya menjadi 10 Jam

               dalam satu minggu, sehingga anak-anak pulang sekolah hingga jam 5 sore, apakah ini diperkenankan.
  Jawab = Tidak diperkenankan, sebab hal ini bertentangan dengan standar kurikulum nasional yang mengatur jumlah beban mengajar minimal dan
  maksimal jam pelajaran satu minggunya. sebagai contoh tingkat SMA, standar kurikulum menghendaki  maksimal jam pelajaran satu minggunya 42 jam
  mengajar. Jika hal ini tetap dipaksakan bisa dikenai sangsi seperti pada pembahasan pertanyaan sebelumnya. Anda bisa melihat aturan standar
  kurikulum dan sarana prasarana di wakasek kurikulum sekolah anda. Insya Allah mempunyainya.

8.Tanya = Saya seorang guru PNS mengajar sejarah disebuah SMP, karena kekurangan jam mengajar saya menambah mengajar di SD. Bolehkah hal ini?
   Jawab = Tidak boleh, karena guru SD adalah guru kelas, sedangkan anda guru MAPEL. Guru MAPEL baik dari SMP maupun SMA yang diperkenankan

   mengajar di SD adalah guru Penjaskes dan Agama Islam (PAI).

9.Tanya = Saya guru Matematika Biologi SMA, untuk menambah jam bisakah saya mengajar di SMP.
  Jawab = Tidak boleh, sebab sekarang ini tidak ada pelajaran biologi di SMP namun IPA. Jadi untuk mengajar di SMP anda harus mempunyai sertifikat

   pendidik mata pelajaran IPA. Demikian pula sebaliknya, seseorang yang bersertifikat pendidik IPA di SMP tidak boleh menambah jam di SMA.

   Meskipun ijazah S-1 dia Biologi misalnya.

10.Tanya = Saya guru kimia disebuah SMA Negeri, disekolah asal saya mendapat 12 jam mengajar, untuk menggenapi menjadi 24 jam, saya menjadi

                 wakasek kurikulum disebuah SMA swasta. Bolehkah hal tersebut.
    Jawab = Tidak boleh, dalam Permen 39/2008 tugas tambahan hanya diakui jika dilaksanakan di satuan administrasi pangkal (Satminkal).

11. Tanya = Kenapa guru PAI disekolah saya diperkenankan ada ekstrakurikuler.
     Jawab = Untuk guru PAI sertifikasinya di bawah Kemenag, sedikit ada perbedaan aturan, dimana guru PAI dimungkinkan menambah jam pelajaran

     dengan melakukan bimbingan mental/kerohanian maksimal 6 (enam jam pelajaran tiap minggunya)

Sumber:
http://oke-pos.blogspot.com


 

 

Sunday, 14 July 2013 18:10

Tetap Energik Selama Berpuasa

Written by

Berpuasa dengan penuh energi bukanlah hal yang mustahil. Kuncinya ada pada pemilihan asupan yang tepat saat sahur & berbuka puasa. Makanan yang tidak tepat bisa membuat gula darah cepat turun sehingga tubuh menjadi lemas.

Menurut dr.Phaidon Toruan, corporate health trainer, rasa lemas saat berpuasa merupakan efek berkurangnya karbohidrat akibat jumlah asupan makanan yang berkurang. Akibatnya gula darah cenderung menjadi lebih rendah dan tubuh terasa tidak berenergi. Penyebab lain adalah berkurangnya masukan cairan saat puasa. Hilangnya cairan akan perlahan membuat tubuh terasa lebih lemas.

Untuk menghindari lemas, Phaidon memberikan jenis asupan yang sebaiknya dihindari dan ditambah ketika berpuasa.

Asupan yang dihindari:

1. Pemanis sintesis

Pemanis ini biasanya terdapat di sirup, gula, roti, dan tepung. Pemanis ini menyebabkankan gula darah berfluktuasi. Setelah mengkonsumsi pemanis buatan, gula darah cepat naik tapi juga menurun dalam waktu singkat. Akibatnya, energi lekas menghilang dan rasa lemas datang. Phaidon menyarankan konsumsi gula alami seperti gula aren dan stevia yang meningkatkan gula darah dalam waktu lama.

2. Gorengan

Gorengan sebetulnya m erupakan musuh saat puasa. "Gorengan ini yang menyebabkan kita ngantuk dan lemas saat puasa," kata dokter yang aktif di twitter dengan akun @dr_Phaidon ini. Menurutnya, gorengan mengikat oksigen dalam tubuh hingga 20 persen sehingga tubuh kekurangan oksigen dan lemas sepanjang hari.

Asupan yang ditambah

1. Sayur dan buah

Konsumsi serat alami akan menggantikan elektrolit dan suplai vitamin bagi tubuh. Elektrolit yang hilang akan cepat terganti, sementara kandungan vitamin akan membuat tubuh lebih kuat dan tidak rentan penyakit. Asupan buah dan sayur akan membuat tubuh lebih sehat, segar, dan berenergi.

2. Suplemen

Suplemen multivitamin-mineral dan asam lemak esensial juga sebaiknya dikonsumsi. Terutama pada orang yang kekurangan asupan buah dan sayur. Phaidon mengatakan, suplemen adalah 'asuransi kesehatan' yang membantu tubuh tetap sehat selama puasa. "Namun ingat tetap harus dibarengi pola makan yang tepat," tegasnya.

Phaidon juga mencontohkan menu selama berpuasa supaya tubuh terasa bugar dan tidak lemas.

1. Sahur

Ketika sahur pastikan mengkonsumsi karbohidrat komplek, sayur dan buah, dan menghindari gorengan. Karbohidrat komplek, seperti roti gandum atau pasta mengandung serat lebih tinggi sehingga melepaskan energi dalam waktu yang lama. Hal ini memungkinkan pelaku puasa tidak kekurangan energi di siang hari.  "Bila tidak sempat makan sahur pastikan tetap minum air putih dan makan buah," kata Phaidon.

2. Buka puasa

Pastikan tetap tanpa karbohidrat sederhana dan menghindari gorengan. Berikut contoh menunya

Takjil/buka puasa:

- Bubur kacang hijau, ketan, gula aren

- Kolak pisang, ubi, gula aren

Menu makan malam:

- Nasi merah, ayam bakar, tempe bakar

- Nasi merah, soto ayam, tahu

Sumber: Kompas.com


Copyright © 2016 SMA Negeri 1 Jeumpa Puteh Banda Aceh. All Rights Reserved.